Ba’kakatdiu Ake’ Kam Kai

23 مايو، 2011 10:06 م

Oleh: Ahmad Firdaus SPd, MA  *)


Bencana tsunami yang menimpa Mentawai pada quarter 4 tahun 2010, tidak hanya membawa duka bagi sebagian besar masyarakat, namun musibah ini juga menjadi pelipur lara bagi sebagian yang lain. Mengapa bisa begitu? Karena bencana tsunami membuka mata dunia setidaknya ada pulau yang memiliki potensi maju dan besar, namun selama ini “dicampakkan” oleh asumsi masyarakat luar.

Bagi para pejabat, pegawai negeri, ataupun polisi, ada sebuah adagium, bahwa siapapun yang dipindahtugaskan ke Mentawai merupakan orang-orang yang “bermasalah”, mengapa demikian? entahlah! bisa jadi karena letak pulau Mentawai yang sangat jauh, perjalanan di tempuh dari Pelabuhan Bungus, Padang selama 12 hingga 14 jam menggunakan Kapal berkecepatan 12 knot. 

Kapal tersebut beroperasi satu kali dalam seminggu. Bila badai menghadang, kapal tidak akan berangkat. Kepulauan Mentawai juga masih tergolong terbelakang dari segi pembangunan. Dari sekian banyak pulau, hanya ada 1 atau 2 dua pulau yang dialiri listrik, itupun menggunakan genset yang sangat dibatasi penggunaannya, selain perawatan mesin yang tidak bisa digunanakan secara nonstop, juga keterbatasan BBM. Ada satu pulau bernama Tubeket, listrik hanya menyala tidak lebih dari 2 jam dalam sehari yaitu dari selepas Maghrib hingga menjelang Isya.  

Untuk urusan berkomunikasi, sulitnya minta ampun. Dari sekian banyak pulau hanya ada di Sikakap saja terdapat signal itupun hanya di dominasi satu operator. Jadi bila berkesempatan berkunjung ke Sikakap silahkan ganti kartu handphone anda dengan yang warna merah, karena tidak ada warna lain yang berlaku di Mentawai, komunikasi juga terganggu bila jadwal rutin mati lampu dari pukul 14.00-17.00 WIB.

Kebutuhan dasar masyarakat semua didatangkan dari Padang melalui kapal ambu-ambu yang datang tiap hari Rabu. Sehingga ada anekdot di tengah masyarakat, bahwa kehidupan di Mentawai dimulai dari hari Rabu. Kepulauan Mentawai sangat bergantung pada kedatangan ambu-ambu ini.

Ambu-ambu bara, masanag sita
Rusa bara, ambu-ambu tak momoi.
Ambu-ambu tak muriu-muriu, ioi tak masanang

Sebelum bencana tsunami, sebenarnya ada bencana yang lebih parah menimpa masyarakat Mentawai, yaitu gempa tahun 2007, namun karena korban meninggal tidak terlalu banyak, sehingga Mentawai tetap terabaikan. Itulah mengapa akhirnya bencana tsunami menjadi berkah bagi sebagian masyarakat, karena akhirnya mereka juga merasakan bantuan.

Saat ini, hampir semua masyarakat sudah mendapatkan bantuan baik dari pemerintah ataupun lembaga-lembaga sosial, seperti PKPU dan PMI. Selama lebih dari 7 bulan ini, PKPU sudah cukup banyak memberikan bantuan berupa pembangunan rumah, sekolah, renovasi tempat ibadah, bantuan alat dan media pendidikan, WC, penampungan air bersih, tenda, sembako, selimut, bantuan medis serta bantuan modal untuk usaha untuk pembangunan ekonomi masyarakat.

Pulau-pulau yang diberikan bantuan PKPU tersebar di kepulauan Mentawai, antara satu tempat dengan tempat lain ditempuh dengan menggunakan perahu boat dengan ukuran 11 x 1 meter. Jarak yang jauh dan ombak yang sangat besar terkadang menjadi kendala dalam proses rekonstruksi dan rehabilitasi Mentawai.

Badai yang kerap kali turun, juga memaksa para relawan harus balik arah dan menunggu hingga reda, namun tidak jarang sang operator boat memberikan keyakinan bahwa badai besar dan sanggup dilewati. Jadilah, para relawan terombang-ambing di lautan oleh besarnya ombak dan kencangnya angin, dan hal ini bisa berlangsung 4-5 jam. Seperti ke Buria’i perjalanan laut harus di tempuh dalam waktu paling cepat 4 jam. Selain Buria’i daerah lain yang mendapatkan bantuan PKPU meliputi Sabeugunggung, Batamonga, Pasapuat, Sikakap, Tubeket.

Selain kondisi alam, hambatan lainnya adalah BBM. Selalu saja kondisi berulang, BBM datang dari Padang sekali dalam seminggu. Hari ini ada, besok sudah tidak ada dan lusanya ada lagi dengan harga mencapai 3-4 kali lipat dari harga normal. Bensin dalam tempo tiga hari bisa dijual dengan harga Rp 15.000 per liter. Itupun yang dijual hanya sedikit. Padahal untuk menempuh perjalan pulang pergi ke Buria’i diperlukan bensin sekurangnya 90 liter.   

Secara fisik, Mentawai memang banyak kemajuan, banyak jalan dan rumah diperbaiki, gedung sekolah sudah kembali berdiri, perekonomian pun sudah mulai pulih bergeliat kembali, masyarakat secara antusias sudah kembali ke laut untuk mencari ikan. Namun kondisi belum diimbangi dengan kemajuan di bidang lainnya.

Gedung sekolah bagus, namun alat dan media pendidikan sangat kurang untuk mengatakan tidak ada buku-buku pelajaran dan bacaan sangat minim, banyak sekolah juga kekurangan guru bahkan nyaris tidak ada, seperti yang terjadi di Buria’i dan Tubeket. Bila kondisi ini dibiarkan, bukan tidak mungkin Mentawai akan kembali mengalami bencana yang lebih dasyat berupa the lost generation, hilangnya generasi yang dapat membangun Mentawai menjadi lebih baik.   

Budaya hidup sehat, belum menjadi habbit buat masyarakat, mencuci tangan dan menggunakan sandal ketika diluar, belum sepenuhnya dijalankan, membersihkan lingkungan dan imunisasi perlu dikampanyekan secara massif. Penyakit malaria masih mendominasi dan perlu perhatian khusus.

Bila Mentawai dikelola secara baik, tidak menutup kemungkinan akan mengalahkan Bali sebagai pulau pariwisata favorit, ombak di Mentawai sangat bagus dan terkenal untuk surfing. Banyak yang mengatakan ombak di Mentawai nomor 2 setelah Hawai dan mengalahkan Bali. Belum lagi keindahan alam di setiap pulau yang kita jumpai. Pemandangan laut tak bertepi dan jatuhnya matahari (sunset) sangat indah dan akan selalu terkenang.

Pembangunan Mentawai yang dicita-citakan harus berimbang antara fisik dan sumber daya manusianya. Ini bukan hanya tugas dan tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua, tanggung jawab orang-orang yang peduli akan generasi yang lebih baik dimanapun dan kapanpun.

Ba’kakatdiu Ake’ Kam Kai, “Jangan Tinggalkan Kami” menjadi kata-kata yang sering kali terdengar di masyarakat.


*) Ahmad Firdaus SPd, MA | Penanggung Jawab Program Rehabilitasi dan Rekonstruksi Mentawai PKPU 
 

telah dibaca 592 kali
Bookmark and Share
Tag: bakakatdiu ake kam kai jangan tinggalkan kami

Lihat arsip artikel »

حقوق الطبع و النشر © 2001-2012 - PKPU (الوكالة الإنسانية الدولية). جميع الحقوق محفوظة.

Grha Peduli PKPU Jl. Raya Condet No. 27-G Batu Ampar Jakarta Timur 13520

هاتف. 0804 100 2000 فاكس: (021) 87780013 البريد الإلكتروني: welcome@pkpu.or.id "17/05/12 : 10:32:49