Hikmah Puasa
12 Agustus 2010 14:31
Oleh: Lukmanul Hakim (*)
Ketika Allah SWT memerintahkan suatu ibadah kepada hambanya, sudah barang tentu ada hikmah yang terkandung di dalamnya, baik itu yang sudah diketahui maupun yang belum diketahui oleh manusia dan ibadah puasa memiliki beberapa hikmah yang sangat bermanfaat untuk manusia.
Yang mana tujuan ibadah puasa yaitu menjadikan manusia menjadi hamba yang bertakwa, sesuai dengan firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kalian puasa, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183)
Kaum muslimin di dunia bersama-sama menjalankan ibadah puasa, bagi kaum muslimin di Indonesia sesuai keputusan pemerintah melalui Menteri Agama RI memutuskan awal bulan Ramadhan 1431 H pada tanggal 11 Agustus 2010. Sudah barang tentu kita berharap dengan ibadah puasa yang dijalankan oleh mayoritas penduduk Negara Indonesia membawa kepada suatu harapan, bahwa puasa dapat menciptakan manusia yang taat atas perintah dan larangan
Allah SWT.
Adapun hikmah puasa antara lain: Pertama, pembersih jiwa (tazkiyah an-nafs). Puasa merupakan salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT, sehingga seorang yang berpuasa rela meninggalkan segala kesenangannya seperti makan, minum dan berhubungan suami istri, padahal apabila seseorang yang berpuasa ingin melakukan apa yang dilarang untuknya sangatlah mudah, akan tetapi orang yang berpuasa tersebut rela menahan diri karena melaksanakan perintah Allah SWT.
Rasulullah Saw bersabda: “Demi Dzat yang diriku ada di tangan Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dari pada bau minyak kasturi. Dia tidak makan, tidak minum dan tidak berhubungan dengan istrinya karena Ku, Tiap-tiap amal bani adam baginya, kecuali puasa, Ia untuk Ku dan Aku yang akan memberinya pahala". (HR Bukhari dan Muslim)
Kedua, mengangkat derajat manusia. Puasa dapat menyehatkan badan, dan sudah banyak para ahli kesehatan yang menyampaikannya, akan tetapi, puasa juga dapat mengangkat derajat manusia menjadi mulia seperti para malaikat. Sudah kita ketahui bahwa manusia memiliki dua unsur ganda yaitu unsur tanah dan unsur ruh yang Allah tiupkan kedalam diri seorang manusia, apabila unsur tanah yaitu nafsu syahwat lebih dominan, maka manusia akan jatuh derajatnya, bahkan lebih rendah daripada binatang.
Ada kebahagian yang akan didapat oleh orang yang berpuasa. Rasulullah Saw bersabda: “Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, ketika berbuka ia berbahagia dengan berbukanya itu, ketika bertemu dengan tuhannya, ia berbahagia dengan puasanya itu”. (H.R Bukhari-Muslim)
Ketiga, melatih kesabaran. Puasa melatih manusia melawan hawa nafsunya, berjihad untuk tidak berbuat maksiat dan bersabar atas semua ibadah yang dilaksanakan didalam bulan Ramadhan, Rasulullah Saw menamakan bulan Ramadhan sebagai bulan kesabaran (Syahr ash-shabr). “Puasa bulan kesabaran dan tiga hari dalam setiap bulan dapat melenyapkan kedengkian dalam dada”. (HR. Bazzar dari Ali dan Ibnu Abbas). Puasa juga sebagai perisai (junnah) untuk melindungi diri dari dosa ketika di dunia dan untuk menyelamatkan diri dari api neraka di akhirat kelak.
Keempat, menundukkan nafsu seksual. Sudah dipahami bahwa nafsu seksual adalah senjata setan yang paling ampuh untuk menggoda anak manusia, kasus-kasus pornografi yang menggemparkan negeri ini, yang melibatkan para artis makin menguatkan bahwa nafsu seksual merupakan godaan setan yang paling ampuh dan puasa berpengaruh mematahkan gelora nafsu syahwat.
Oleh karena itu, Rasulullah Saw memerintahkan para pemuda yang belum mampu menikah untuk berpuasa, “Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu maka nikahlah, Sesungguhnya ia lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan, Sedangkan barangsiapa tidak mampu maka berpuasalah, karena sesungguhnya puasa itu “pengebirian” baginya”. (HR. Bukhari). Maksudnya puasa dapat menurunkan dorongan syahwat kepada lawan jenis.
Kelima, menambah syukur atas nikmat Allah SWT. Seseorang dapat merasakan nikmatnya kenyang jika ia merasa lapar dan kehausan, ketika ia merasa kenyang setelah lapar dan kehausan maka akan keluar dari relung hatinya ucapan syukur Alhamdulillah, Hal itu akan mendorongnya untuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah yang lainnya.
Nabi Saw bersabda: “Tuhanku pernah menawariku untuk menjadikan kerikil di Mekkah emas. Aku menjawab, “Tidak, wahai tuhanku. Akan tetapi aku kenyang sehari dan lapar sehari. Apabila aku lapar, aku merendah sembari berzikir kepadamu, dan apabila aku kenyang, aku memujimu dan bersyukur kepadamu.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Keenam, menjadi peduli kepada orang lain. Puasa mempunyai hikmah sosial (hikmah ijtima’iyah) yaitu setiap orang yang berpuasa akan merasakan lapar, sehingga akan timbul empati dari orang-orang yang berpuasa kepada orang orang fakir miskin yang mengalami kelaparan, bulan Ramadhan merupakan bulan solidaritas (sahr al-muwasah) sehingga Nabi Muhammad SAW memberikan teladan bagaimana menjadi orang yang pemurah dan dermawan.
Di bulan Ramadhan adalah saat yang tepat untuk menunaikan zakat dari harta yang dimiliki, karena setiap harta yang dikeluarkan akan dilipatgandakan pahalanya disisi Allah SWT. Amalan yang paling utama juga adalah memberi makan bagi orang yang berpuasa. Nabi Muhammad SAW bersabda “Barangsiapa memberi makan untuk berbuka orang yang berpuasa, ia mendapat pahala seperti pahalanya, tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang orang yang berpuasa itu” (HR. Ahmad,Tirmidzi,Ibnu Majah dan ibnu hiban)
Ketujuh, menjadi bertakwa. Puasa merupakan sekolah istimewa (madrasah mutamayizah) yang dibuka Islam setiap tahun untuk mendidik manusia menjadi pribadi yang bertakwa, dengan memasuki bulan Ramadhan, menjalin hubungan dengan tuhannya, mengerjakan puasa yang baik dan melaksanakan shalat malam (qiyamulail) sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Setelah mengikuti sekolah istimewa di bulan Ramadhan, maka diharapkan seorang yang berpuasa akan lulus dengan predikat bertaqwa, dan keuntungan yang diperolah adalah ampunan Allah dan diselamatkan dari api neraka. Abu Hurairah r.a meriwayatkan dari Rasulullah SAW, bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, niscaya diampuni dosa-dosa yang telah lalu….Barangsiapa menegakkan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. (HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga hikmah puasa ini dapat menjadikan kita semua manusia yang mulia dan terus menerus menjadi manusia yang bertaqwa, hingga Allah SWT menakdirkan usia kita telah cukup untuk menempuh perjalanan hidup di dunia ini dan menempatkan kita di SyurgaNya kelak.
(*) Lukmanul Hakim, Kepala Cabang PKPU Medan
