Membangun Budaya Baca dengan Perpustakaan Keliling

11 يوليو، 2011 2:12 م

Oleh: Ahmad Firdaus *

Bila buku sebagai jendela ilmu pengetahuan, maka perpustakaan adalah gudangnya. Karena perpustakaan menyimpan buku-buku dan beragam jenis informasi yang dapat diakses dengan mudah oleh para pengunjungnya. Perpustakaan juga secara tidak langsung menjadi “pasar” bagi para transaksional ilmu pengetahuan, tempat bertemunya para “pembeli” ilmu pengetahuan dan beragam informasi yang harganya tidak dapat di ukur dengan materi.

Buku dan perpustakaan dua sejoli yang dirindu dan dibutuhkan oleh siapapun. Namun terkadang, tidak jarang diantara kita mengabaikannya. Fakta, bahwa banyak daerah di Indonesia membutuhkan buku-buku yang bermutu dan belum tersentuh perpustakaan namun di sisi lain perpustakaan yang sudah ada minim sekali pengunjung.

Memaknai Perpustakaan

Perpustakaan selain disebut sebagai gudang ilmu pengetahuan juga dapat dikatakan sebagai sumber informasi dan tempat rekreasi, mengapa demikan? Pertama, perpustakaan dalam skala yang kecil sekalipun, tetap dapat dijadikan rujukan untuk berbagai informasi yang kita butuhkan. Kedua, selama di perpustakaan seseorang dapat membawa imajinasinya ke tempat dimanapun dan rentang waktu kapanpun di dunia melalui buku.

Ketiga, pada perpustakaan tertentu, tidak hanya menyediakan buku-buku dan sumber informasi tetapi juga menyediakan alat-alat permainan edukatif, yang memungkinkan para pengunjung dapat belajar sambil bermain. Keempat, perpustakaan juga dapat dijadikan sebagai sarana rujukan dalam tugas-tugas belajar yang dibebankan oleh guru/dosen. Kelima, perpustakan dapat menjadi tempat ”pelarian” bagi kita yang sudah mulai jenuh dengan hiruk pikuk suasana kerja/belajar.

Dengan pemaknaan di atas, perpustakaan tidak lagi sebagai tempat yang “angker”, sepi dan tempat hukuman bagi para siswa yang di anggap bermasalah, perpustakaan juga tidak lagi identik dengan kumuh, debu dan kaku. Konsekuensinya, perpustakaan harus dapat menyesuaikan dengan kondisi kekinian dan selera yang dapat diterima “pasar” baik tampilan maupun isinya.

Kondisi Perpustakaan di Tanah Air
Perpustakaan di Indonesia masih belum memadai, baik dari segi kuantitas dengan melihat ketersediaan perpustakaan di berbagai wilayah Indonesia dan segi kualitas yang menitikberatkan pada bagaimana pengeleloaan perpustakaan agar sesuai dengan apa yang diharapkan di atas.

Selain perpustakaan yang dikelola oleh pemerintah melalui perpustakaan daerah, nyaris tidak ada lagi perpustakaan umum yang dapat di akses dengan mudah oleh pengunjung. Kalaupun ada, perpustakaan itu dibangun oleh lembaga besar atau individu yang memiliki dana banyak yang mampu membangun perpustakaan. Itu pun hanya lembaga besar atau individu yang memiliki kesadaran bahwa perpustakaan merupakan asset yang berharga.

Perpustakaan-perpustakaan yang sudah ada saat ini, kondisinya pun relatif memprihatinkan karena pengelolaan yang seadanya dan orang-orang yang bekerja didalamnya pun hanya sebagai pelengkap dan bukan sebagai idaman. Terkesan main-main, tidak serius atau terlalu kaku dalam menemui para pengunjung.

Melihat kondisi yang miris tersebut, PKPU sebagai lembaga sosial kemanusiaan yang memiliki perhatian cukup tinggi dalam bidang pendidikan, mencoba memberikan alternatif program perpustakaan, kecil dan sederhana namun dapat memberikan makna yang lebih kepada masyarakat terutama para pengakses perpustakaan dan pecinta buku.

Perpustakaan Keliling sebagai Model
Dalam kiprahnya sebagai lembaga yang peduli terhadap perbaikan masa depan, PKPU mengembangkan program-program perpustakaan yang terintegral dalam program pendidikan. PKPU mengembangkan program perpustakaan keliling di landasi beberapa hal sebagai berikut:

1.    Perpustakaan keliling dapat menjangkau daerah-daerah yang terpencil
2.    Bersifat aktif, artinya tidak menunggu para pembaca yang datang, tetapi menjemput anak-anak dan para pengunjung untuk dapat membaca.
3.    Suasana bersifat mobile, tidak monoton, kaku dan “angker”
4.    Program perpustakaan keliling relatif lebih murah

PKPU mengembangkan program perpustakaan keliling sejak tahun 2005, ketika bencana gempa dan tsunami menimpa Aceh, ribuan pengungsi yang menempati tenda-tenda dan barak pengungsian kerapkali didatangi oleh pustakawan PKPU yang membawa motor perpustakaan. Bagi PKPU, perpustakaan keliling tidak hanya sebagai tempat tersedianya ratusan buku dan beragam informasi, tetapi juga menjadi hiburan bagi para pembaca dan pengunjung di saat suntuk menghadapi persoalan hidup. Perpustakaan keliling yang dikembangkan PKPU menjadi rintisan untuk di ikuti oleh lembaga lain bahkan pemerintah pun mengadopsinya.

Program perpustakaan keliling memiliki tiga basis sebagai operasionalnya: basis mobil, motor dan sepeda. Ini bergantung pada daerah sasaran dan biaya yang dikeluarkan, pada daerah-daerah pegunungan dan jalannya kecil seperti pangalengan, ini memerlukan motor sebagai basisnya. Sedangkan di daerah pedesaan dimana jalan hanya setapak untuk dilalui, maka sepeda sangat tepat digunakan. Sedangkan mobil digunakan untuk daerah-daerah perkotaan dan semi yang memang dengan segala penyebab akses untuk ke perpustakaan atau toko buku sangat minim.

Buku-buku yang di bawa dengan basis tiga kendaraan ini pun relatif berbeda, bila mobil bisa membawa 5.000 buku, sedangkan motor maksimal hanya mampu membawa 1.200 buku dan sepeda hanya mampu membawa tidak lebih dari 600 buku. Selain buku-buku bacaan, perpustakaan keliling ala PKPU juga dilengkapi dengan alat-alat permainan edukatif yang menghibur. Bahkan pada perpustakaan berbasis mobil dilengkapi dengan peralatan audi visual yang memungkinkan para pengunjung dan pembaca dapat menontot film-film pendidikan serta perlengkapan komputer untuk mengakses internet.

Para pustakawan yang terdiri dari relawan-relawan, meskipun tidak semua memiliki latar belakang pendidikan kepustakawanan, namun sebelum terjun ke lapangan mereka dibekali oleh pelatihan yang terstruktur, selain ilmu dasar kepustakawanan seperti katoligisasi dan penomoran buku, relawan juga dibekali oleh ilmu manajemen, psikologi pendidikan dan perkembangan anak, metode cerita,  intertain program, seni menghibur dan cara mengendarai motor/mobil atau sepeda yang baik. Hal ini dilakukan agar tujuan dan harapan-harapan yang dicanangkan dapat tercapai dengan baik. Sehingga tidak mengherankan bila pustakawan bak artis yang ditunggu para pembaca terutama anak-anak.

Fleksibelitas dalam menjalankan program dan pencatatan yang baik terhadap para pengunjung dan pembaca, menjadi bagian dari proses berjalannya program perpustakaan keliling. Fleksibel dalam arti jadwal kegiatan tidak mengacu pada hari-hari kerja tertentu, tetapi menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Hari-hari libur bisa jadi program perpustakaan keliling tetap berjalan, karena memang kebutuhan masyarakat pada saat itu menghendaki program tetap berjalan.

Kurun waktu 6 tahun PKPU, sudah menjalankan beberapa perpustakaan keliling yang tersebar di wilayah Aceh, Medan, Padang, Bandung, Jakarta dan Yogyakarta. Puluhan ribu anak-anak dan pengunjung sudah merasakan manfaat besar dari program perpustakaan keliling ini, sekarang tinggal kita, sudahkah kita memanfaatkan perpustakaan sebagai wisata hiburan atau sudahkah kita menjadi bagian dari lingkaran program ini. Semoga sudah!


WISATA BUKU

Buku membawaku berwisata
Mengunjungi negri-negri segala penjuru benua
Pusat peradaban manusia
Ragam suku, adat dan bahasa
Aneka peninggalan dan budaya
Aku mampir di kesejukan taman gantung Babilonia
Singgah di kemegahan Tajmahal di India
Melihat kegersangan Pyramid di Egiptia
The Great Wall yang perkasa di Cina
Mengagumi mercusuar di Iskandaria
Mendatangi Borobudur di Indonesia
Menapaki tangga-tangga menara Pisa di Italia
Bertualang ke padang safari Afrika yang penuh pesona,
Menjelajah di kelebatan rimba Amazon di Brazilia
Mengarungi kegersangan padang sahara.
Atau menguak misteri segi tiga bermuda
Kamu bisa menyaksikan peristiwa yang pernah terjadi
Kedahsytan perang Troya karena masalah wanita
Kehancuran kaum Pompi dibenam bencana
Kebangkrutan imperium Romawi yang tak bertepi
Kehancuran kerajaan Persia penyembah api
Keagungan Iskandar Dzulqornain
Kecantikan Cleoparta
Kesombongan Fir’aun
Kecemerlangan Cordova di Spanyol
Ketinggian peradaban di Bagdad
Penjarahan masal masa kolonial
Perlawanan pribumi menentang penjajahan
Kengerian perang dunia pertama
Kehancuran perang dunia kedua
Bom atom di Hirosima
Peperangan, Perdamaian, Kemerdekaan, Kebudayaan,
Peradaban, Kemanusiaan
Buku adalah benda ajaib
Kamu bisa mengembara ke mana saja kamu suka.
Bertemu semua tokoh dunia
Lukmanul Hakim, Khaidir, Plato, Einstein
Aristhoteles, Ibnu Sina, Khawarizmi, dan Thomas Alfa Edison
Sholahudin, Washington, Thoriq bin Ziyad, juga Napoleon Bonaparte
Atau memberi ta’dzim kepada para pahlawan nasional kita,
Fatahillah, Diponegoro, dan Patimura
Imam Bonjol, Tengku Umar juga Buya Hamka
Bung Tomo, Jenderal Sudirman dan Oto Iskandardinata
Buku mengajakmu berwisata
Keliling dunia
Mengunjungi sudut-sudut sejarah
Menyusuri kehidupan
Dalam semua sisi waktu dan zaman

(www.dwifahrial.wordpress.com)

  
*) Ahmad Firdaus, aktifis Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU
 

telah dibaca 1455 kali
Bookmark and Share
Tag: Zakat perpustakaan keliling membangun budaya baca

Lihat arsip artikel »

حقوق الطبع و النشر © 2001-2012 - PKPU (الوكالة الإنسانية الدولية). جميع الحقوق محفوظة.

Grha Peduli PKPU Jl. Raya Condet No. 27-G Batu Ampar Jakarta Timur 13520

هاتف. 0804 100 2000 فاكس: (021) 87780013 البريد الإلكتروني: welcome@pkpu.or.id "17/05/12 : 10:33:45