Memberdayakan Desa dengan Produk Unggulan
12 يناير، 2012 11:16 صOleh: Ahmad Firdaus *
Pemberdayaan desa berbasis produk-produk unggulan biasa disebut dengan istilah OVOP atau One Village One Product. Bagi PKPU istilah ini sudah di pakai dan diimplementasikan dalam program-program pemberdayaan masyarakat yang dimaktub dalam program sinergis ekonomi pemberdayaan komunitas atau Prospek.
OVOP sendiri bukanlah suatu inovasi teknologi baru bagi komunitas agribisnis di Indonesia. Program ini sudah dikenal sejak tahun 2001. Pertama kali OVOP diperkenalkan oleh komunitas kota kecil Oita, Pulau Kyushu, Jepang. Dengan prakarsa dari Morihiko Hiramatsu saat menjabat Gubernur Prefektur Oita. OVOP yang diterjemahkan sebagai “paling sedikit satu kecamatan menghasilkan satu produk unggulan”.
Gerakan ini ditujukan mengembangkan produk yang diterima global dengan tetap memberikan keistimewaan pada invensi nilai tambah lokal dan mendorong semangat menciptakan kemandirian masyarakat. Dari sisi dampak pariwisata, kawasan Oita menjadi magnet bagi 10 juta wisatawan yang berkunjung per tahun.
Kini, Gerakan OVOP telah diadopsi di berbagai belahan dunia seperti One Factory One Product di China untuk Kerajinan kayu, One Barangay One Product (Philipina), Satu Kampung Satu Produk Movement (Malaysia), One Village One Product a Day (USA), One Village One Product (Malawi) dengan produk utama jamur. Sementara di Thailand OVOP lebih dikenal sebagai OTOP, yaitu One Tambon, One Product. Model dari Thailand inilah yang di adopsi oleh pemerintah.
Bagi Indonesia, OVOP berarti satu desa satu produk yang bersifat unggulan. Satu produk merujuk pada pendekatan pengembangan potensi daerah di satu wilayah tertentu, pengertian desa juga bisa diperluas menjadi kecamatan atau kabupaten/kota.
Tujuan utama hadirnya OVOP dalam rangka menggali, mengembangkan dan mempromosikan produk-produk inovatif dan kreatif yang berasal dari daerah yang bersangkutan bersifat unik, khas dan memiliki ciri tertentu agar lebih bernilai tinggi. Sehingga diharapkan mampu mengurangi kemiskinan secara massif.
Kita bisa belajar dari Malaysia yang menerapkan codes untuk industri minyak sawitnya dengan pendekatan produk pangan halal, negara ini disiapkan menjadi hub untuk pemasaran internasional dan Thailand yang bisa dengan mantap memasuki era industri yang berbasis pertanian. Banyak pakar menyampaikan mestinya Indonesia bisa memimpin sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. Hal ini memungkinkan karena selain memiliki plasma nuftah dengan biodiversity yang beragam, juga kondisi lahan yang mendukung.
Indonesia mulai merealisasikan gerakan OVOP tahun 2008 berkolaborasi dengan melibatkan banyak stakeholder. Usulan daerah yang ingin mengembangkan OVOP dilakukan secara bottom up yang kemudian dilakukan seleksi dengan kriteria keunikan khas budaya dan originalitas, mutu dan tampilan produk, potensi pasar yang terbuka di dalam dan di luar negeri, kontinuitas dan konsistensi produksi yang didukung sumber daya lokal.
Konsultan brand dan desainer produk Irvan A. Noe’man menjadi motor yang memperkenalkan semangat baru OVOP. Dengan sentuhan trend warna, tekstur dan material yang menjadi trend masa depan, produk lokal ini menjadi relevan dengan tampilan kontemporer tanpa menghilangkan cita rasa lokal. Ini adalah yang disebut sebagai proses decoding. Para kreator produk diajak untuk memahami trend, untuk kemudian mentransformasi desain produk dengan mengombinasikan sentuhan trend baru ini.
Setelah produk ini menjadi “seksi”, langkah berikutnya adalah menciptakan demand yang diciptakan melalui eksposur. Ecommerce menjadi solusi agar produk-produk Indonesia ini tampil tidak hanya sebagai objek budaya dan barang apresiasi saja. Model yang ingin saya ciptakan adalah mengangkat cerita dari kreator ini bagaimana kekayaan intelektual kita ini menjalani proses kreatif, mulai dari ide, produksi hingga finishing dan bisa muncul di Internet.
OVOP ala PKPU
PKPU sebagai lembaga pemberdayaan masyarakat juga ikut berpartisipasi dalam mengembangkan dan mengimplementasikan program OVOP dengan menjadikannya sebagai program andalan agar masyarakat dapat mencapai kesejahteraan lebih cepat.
Sampai saat ini PKPU sudah mengembangkan dua bidang OVOP yaitu: OVOP Jambu yang berlokasi di Depok, Jawa Barat dan OVOP Pisang yang berlokasi di Muncang, Lebak, Provinsi Banten.
Dari hasil olahan jambu biji merah (Guajava.Sp) ini masyarakat Rawadenok Depok sudah menghasilkan jus jambu dalam kemasan yang bisa bersaing di pasaran dengan produk-produk jus jambu kemasan lainnya yang sudah terlebih dahulu beredar. Dari tanggapan masyarakat baik yang memproduksi maupun menikmati hasil produk OVOP ini diambil sebuah kesimpulan bahwa program OVOP ini sangat positif dan mampu meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat.
Hadirnya OVOP Jambu ini dilatarbelakangi oleh adanya kegelisahan PKPU, melihat hasil pertanian masyarakat Rawadenok yang melimpah, namun belum dapat meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakatnya. PKPU hadir dengan konsep OVOP dan memberdayakan masyarakat untuk mencapai hasil yang maksimal dari usaha perkebunan.
Dalam OVOP Pisang, PKPU mendampingi masyarakat mulai dari pemilihan bibit, pengolahan lahan hingga metodologi pemasaran, saat ini program sudah memasuki tahun kedua, dengan hasil yang memuaskan, masyarakat selain menjual pisang dengan model pemasaran modern, juga mampu mengelola buah pisang dalam bentuk makanan yang bervariasi.
Dalam proses pendampingan OVOP, PKPU menerapkan metodologi partisipatif selama dua tahun, PKPU hanya mendampingi dan memfasilitasi kegiatan-kegiatan masyarakat, pemegang peran utama tetap masyarakat. Setelah dua tahun, dan PKPU menyelesaikan programnya, masyarakat akan membentuk kelembagaan masyarakat yang menjadi wadah bagi masyarakat untuk melanjutkan program secara bersama-sama.
Program OVOP akan berjalan sesuai dengan harapan, apabila dikembangkan secara professional dan mendapatkan dukungan dari semua stakeholder, baik pemerintah, dunia usaha maupun masyarakat itu sendiri. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki kekhasan masing-masing, sehingga OVOP sangat berpotensi untuk bisa diterapkan di wilayah Indonesia manapun. Kita berharap, Indonesia menjadi basis produk-produk unggulan di semua bidang pertanian, sehingga kesejahteraan masyarakat dapat terealisasi secepatnya. Semoga!
*) Ahmad Firdaus, Aktifis Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU
