Mengintip PKPU Via Posko Bencana, Sebuah Pengalaman Pribadi
5 ديسمبر، 2011 6:42 مOleh : Ahmad Firdaus *)
Sudah menjadi keharusan bagi semua lembaga sosial, instansi pemerintah atau badan dunia mendirikan sebuah atau beberapa posko sebagai operasional kerja di daerah bencana. Keberadaan posko tidak hanya strategis tetapi juga teknis sangat diperlukan, posko selain tempat bekerja, tempat pertemuan, tempat ibadah, gudang, restoran kecil, juga menjadi tempat tidur. Sebagai “sarang” dalam segenap perkumpulan aktifitas, posko memegang peranan penting.
Terkadang posko juga menunjukkan “status” sosial dari lembaga tersebut, mulai dari posko yang berlantai lebih dari dua dengan bejibun ruangan hingga posko yang memanfaatkan emperan Masjid, bahkan ada posko yang setiap harinya menggunakan tenda. Beberapa lembaga sosial internasional, seperti Save Children, Plann, Islamic Relief dan lembaga badan dunia pada umumnya mempunyai posko yang “mewah” dan super lengkap.
Segenap fasilitas mulai dari mesin cuci hingga mesin fax tersedia di dalamnya, bahkan alat-alat elektronik super canggih yang belum populer di Indonesia, biasanya ada di dalamnya, selain fasilitas kendaraan yang wajib ada dalam penangan bencana. Fasiltas-fasilitas tersebut wajar ada dalam rangka menunjang aktifitas penanganan bencana agar lebih maksimal dan tanpa hambatan, meskipun terkadang tidak berbanding lurus dengan kinerja lembaga tersebut.
Sejak berdiri akhir tahun 1999, PKPU sudah terlibat secara langsung dalam proses penangan bencana, baik itu bencana alam maupun bencana sosial. Kiprah pertama PKPU dilakukan di Ambon dalam menangani pengungsi korban konflik SARA tahun 2000, aktifitas ini terus berlanjut hingga saat ini. Dalam penanganan korban bencana PKPU menggalami momentum ketika bencana gempa dan tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam pada 26 Desember 2004.
Pengalaman penulis bergabung bersama PKPU sejak penanganan bencana di Aceh, tepatnya 9 Januari 2005, berlanjut hingga sekarang. Meskipun sebelumnya sudah bersentuhan ketika penanganan korban konflik di Ambon, namun tidak secara langsung karena hanya menjadi mitra kerja. Beberapa penanganan korban bencana yang terlibat bersama PKPU diantaranya korban gempa dan tsunami Aceh, tahun 2004, Banjir Tamiang Aceh tahun 2007, Gempa Tasik tahun 2009, Gempa Sumatera Barat tahun 2009, Letusan Gunung Merapi tahun 2010, dan Tsunami Mentawai 2010.
Membanding posko-posko yang didirikan PKPU di banyak daerah bencana yang penulis tempati, Posko Mentawai yang paling memperihatinkan, meskipun di tempat lain tidak lebih sempurna. Betapa tidak, kami hanya menempati ruko (rumah toko) satu lantai berukuran 4 x 8 meter persegi itu sudah termasuk dapur dan kamar mandi, posisi ruko kami di pinggir “jalan raya” dan tepat buka pintu belakang sudah ada sungai besar yang membelah Pulau Pagai Utara dan Selatan, Mentawai.
Di posko mungil tersebut kami berkumpul, para relawan, tenaga kerja yang bangun rumah, anak-anak yang ingin baca buku dan masyarakat dari pulau lain yang kebetulan singgah di tempat kami untuk berteduh dan bermalam. Belum lagi keluar masuknya masyarakat untuk meminta bantuan, dan berurusan degan polisi baik yang menangani kehutanan maupun ketertiban masyarakat, segala macam mereka utarakan yang pada akhirnya UUD (Ujung-Ujungnya Duit) juga.
Posko tersebut selain tempat kerja, juga ditempati sebagai tempat tinggal, gudang, restoran kecil dan terkadang tempat ibadah diantara selah kaki orang dan tumpukan barang yang ada ditempat itu. Tidur pun sembarang tempat, bila nasib kurang mujur biasa tidur diatas tumpukan barang, yang tidak jarang di “cumbui” oleh siti (si tikus). Tidak ada mesin cuci, setrika, sofa dan kipas angin, kompor yang kami gunakan untuk memasak pun hasil pinjaman dari masyarakat.
Kondisi air yang mendapatkannya antri, memaksa kami berhemat air, dengan mandi maksimal satu kali, kami juga biasa mandi di Masjid dengan menggunakan air cadangan hasil tadahan hujan, karena mengandalkan sumur airnya keruh, namun cuaca panas kadang mendera Mentawai berhari-hari, hingga air pun habis, terpaksalah harus menggunakan parfum yang lebih banyak sebagai pengganti mandi. Hujan turun biasanya disertai dengan angin kencang, yang menyebabkan ombak besar. Bila ombak besar aktifitas nelayan berhenti, artinya kami mulai kesulitan mencari makan.
Listrik dimana daerah posko kami berada, juga di jatah. Setiap jam 2 siang hingga jam 5 sore selalu mati, kondisi ini dilakukan untuk mendinginkan diesel yang digunakan menyalakan listrik, bahkan pernah listrik mati berhari-hari karena dieselnya rusak dan BBM nya habis.
Perjalanan menuju Mentawai saja sudah merupakan perjuangan, di kapal berukuran sedang (kapal ambu-ambu) memuat lebih kurang 300 orang, perjalanan kami tempuh antara 12-14 jam dari jam 5 sore hingga jam 8 pagi. Meskipun tidak selama ketika perjalanan relawan dari Jakarta ke Ambon tahun 2000 dengan menggunakan kapal besar bernama Lambelu yang di tempuh hingga 4 hari, namun tetap saja perjalanan ini cukup melelahkan, gempuran ombak di Samudera Hindia terasa hingga ke bahu kapal yang kami tumpangi, angin menusuk hingga ke tulang, belum lagi bau asap rokok dan susahnya bila terpaksa ke kamar kecil.
Lokasi tempat posko PKPU berada di wilayah Sikakap. Beruntung, wilayah ini tergolong lebih maju dibanding dengan yang lainnya, seperti di Sabegunggung dan Buria’i, lokasi tempat PKPU membangun rumah, tidak ada singal HP, tidak ada listrik dan banyak nyamuk. Bila malam tiba, yang terdengar hanya suara binatang. Malam berlalu terasa lambat sekali, bila siang menjelang panas matahari terasa satu jengkal di atas kepala. Hari-hari itu harus terus dilalui, demi mengejar sebuah komitmen. Menebar Kepedulian.
Awal tahun 2005, pasca bencana besar gempa dan tsunami di Aceh, Posko PKPU berdiri di lokasi yang berdekatan dengan pasar Lambaro, Aceh Besar. Meskipun tidak lebih baik dari posko-posko LSM lain, namun setidaknya kami bisa menikmati kipas angin, mesin cuci dan berita televisi, dan aliran listrik yang putus-nyambung-putus-nyambung. Ruko 2 lantai tersebut hanya bisa digunakan lantai atasnya saja, karena lantai 1 masih digunakan sebagai toko meubeuler.
Bencana gempa Tasik, beruntung PKPU menempati posko separuh hibah, bangunan rumah yang baru saja di rehab terletak di tengah kota Tasikmalaya, dengan fasilitas lengkap seperti televisi dan mesin cuci, lelah seharian mengurusi korban bencana terasa hilang ketika sampai di posko, hampir tiap malam tukang bakso dan sekoteng lewat depan posko. Terasa bedanya.
Bahaya penyakit mengincar setiap saat, dalam seminggu 3 orang yang menempati posko kami terserang malaria, Pak Randy tukang shenso (potong kayu) Pak Abu operator boat, dan Adi relawan PKPU Padang, sudah merasakan sakitnya malaria, kepala terasa berat dan pusing, badan panas dingin, tulang-tulang terasa ngilu, jangankan ingin makan, minum saja harus dipaksa. Tiga hingga lima hari penyakit ini menyerang sendi-sendi kekebalan tubuh kita.
Terpaan ombak, guyuran hujan, sinaran matahari selalu dilewati dalam menjalankan tugas membangun rumah, sekolah dan tempat ibadah ini. Ke daerah Buria’i, perjalanan harus di tempuh 4-5 jam mengarungi lautan samudera hindia. Ke daerah Buria’i kami membangun rumah dan tempat ibadah, ke Buria’i PKPU memberikan asa dan masa depan untuk lebih baik.
Segenap do’a dan harapan yang tertanam di Mentawai menjadikan kami tetap semangat dengan segala keterbatasan, melihat sunset, memancing di laut, menunggu listrik nyala dan menanti HP berbunyi adalah saat-saat penuh hiburan bagi kami, untuk mengobati rasa rindu akan peradaban baru.
*) Ahmad Firdaus, aktif di Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU
