Menggugah Nurani Menebar Peduli lite version  english version  versi bahasa indonesia
SITUS RESMI LEMBAGA KEMANUSIAAN NASIONAL PKPU
    Gedung Graha Peduli PKPU Jl. Raya Condet No. 27-G Batu Ampar Jakarta Timur 13520
    Telp. (021) 87780015 Fax: (021) 87780013 email: customer_relation@pkpu.or.id
HOME PROFIL BERITA ARTIKEL KEUANGAN JEJARING PROGRAM ZAKAT GALERI BUKU TAMU
:: BERITA

Rabu, 04 Desember 2002
Menabur Dakwah, Menebar Peduli Di Lereng Tengger - Lumajang


PKPU Online LUMAJANG - Ahad, (1/12) jam 08.00 pagi, saya mewakili PKPU Jawa Timur dan rombongan dari PKPU Korlak Lumajang, berangkat ke desa Argosari. Desa ini terletak di lereng Tengger Gunung Semeru - Kabupaten Lumajang. Jaraknya kurang lebih 52 km dari pusat kota lumajang. Desa Argosari yang dipimpin oleh seorang kepala Desa beragama Hindu, terdiri atas empat dusun yakni dusun Gedok, dusun Argosari, Bangkalan dan Pusung Duhar. Jarak antar tiap dusun cukup jauh. Dari empat dusun ini, hanya Dusun Gedok yang warganya seluruhnya beragama Islam, sehingga dusun ini menjadi pilihan untuk penyaluran bantuan paket Ramadhan (FOOD PACKET PROGRAME) dari Islamic Relief. Sedangkan dusun lainnya warganya beragama hindu. Selain alasan ini, pilihan lokasi ini karena lokasinya yang cukup terisolir di ketinggian tengger juga jarang terjamah oleh bantuan dari lembaga lain.

Tim PKPU berangkat dari Lumajang didampingi oleh Suwarno, warga dusun Gedok yang juga kepala LKMD di dusun ini. Bersama kami, ikut pula Ust. Zainal, pimpinan Islamic Center Ar Rahmah Lumajang. Jalan sempit beraspal yang kami lalui menuju perkampungan berkabut putih Pemandangan yang kami lewati cukup indah, karena di kanan kirinya terdapat lahan perkebunan sayur yang cukup subur. Dinginnya udara di wilayah ini menjadi tempat yang tepat untuk perkebunan sayur.

Mobil bermuatan 10 orang yang kami tumpangi, harus berjalan perlahan menembus pekatnya kabut, dan mendaki jalan yang kian menanjak. Memasuki dusun Gedok, wilayah desa Argosari, jarak pandang semakin tidak jelas, karena kabut yang menyelimuti perkampungan cukup tebal. Beberapa penduduk terlihat berselimut selembar kain. Banyak yang tidak berjaket. Saya cukup heran, karena sepertinya mereka sudah terbiasa dengan cuaca dingin tanpa jaket. Padahal, jaket tebal yang saya pakai tidak mampu menahan hawa dingin desa ini.

Kegiatan penyaluran paket Bantuan Ramadhan dari Islamic Relief, dilaksanakan di halaman Masjid dusun. Beberapa wanita paruh baya yang telah berkumpul di sekitar Masjid dusun, kelihatan mengisap rokok. Pemandangan ini juga saya tangkap ketika melihat sekolompok pria paruh baya yang berkumpul di sebuah rumah warga depan Masjid.

Mereka sepertinya tidak merasa bahwa saat ini suasana Ramadhan. Mereka melakukannya tanpa rasa canggung sama sekali. Saya dibisiki oleh Pak Suwarno, bahwa mereka yang berkumpul di sini semuanya muslim. Ketika saya bertanya tentang sikap mereka, Pak Suwarno tidak menjawan apa-apa. Pak Karman, warga desa yang saya perhatikan cukup rapi, kemudian saya dekati. Dari Pak Karman, saya mendapat penjelasan bahwa mereka muslim tapi keyakinan mereka bercampur dengan kepercayaan animisme dan kepercayaan hindu. Masjid yang cukup bagus untuk ukuran desa ini, sering kosong. Sholat Jumatpun hanya dilakukan oleh sepuluhan warga desa. Beberapa wanita paruh baya yang saya temui tidak bisa bersyahadat dan ketika saya tanya di rumahnya ada mukena, mereka menjawab tidak ada.

Pendidikan juga menjadi masalah di dusun maupun dusun lainnya. Hampir sebagian besar anak-anak mereka tidak mengenyam pendidikan yang layak. Pendidikan paling tinggi hanya SD itupun tidak semuanya lulus. Untuk menyekolahkan anak ke SMP atau SMU harus ke Lumajang, sehigga mereka berpikir dua kali. Tidak heran, bila kebanyakan anak-anak mereka juga ikut membantu pekerjaan mereka menjadi petani atau buruh tani di perkebunan.

Ketidaktahuan mereka terhadap nilai-nilai Islam menyebabkan aktifitas-aktifitas animis dan hindu masih dilaksanakan. Salah satunya adalah Hari Raya Karo. Menurut Suwarno, Hari Raya Karo dirayakan setiap tanggal 20 Kliwon Tahun Jawa. Biasanya warga desa/dusun menyediakan tumpengan di rumah masing-masing. Seorang dukun yang dianggap berilmu di desa ini datang ke rumah penduduk kemudian mendoakan mereka di depan sesajian. Masalahnya sang dukun tadi beragama Hindu.

Tahun ini hari Raya Karo dilaksanakan pada tanggal 17 Nopember lalu. Hal ini yang menyebabkan PKPU Lumajang membatalkan rencana penyaluran bantuan dari Islamic Relief pada tanggal 16 Nopember, karena khawatir dipakai untuk tumpengan pada hari Raya Karo.

Warga dusun dikumpulkan di depan Masjid. Acara pembagian bantuan makanan yang terdiri dari Beras, gula, susu, diawali dengan ceramah dari Ust. Zainal. Awal ceramah ust. Zainal saya anggap cukup unik. Beliau menuntun warga dusun untuk mengucapkan syahadat. Dengan perlahan ucapan syahadat ini diikuti oleh warga desa dan beliau ulang tiga kali. Beberapa warga yang saya perhatikan begitu kaku untuk mengulang syahadat Ust Zainal. Kemungkinan karena mereka jarang mengucapkan syahadat. Untuk mengaji Al Qur'an jangan ditanya, karena mereka jarang menyentuh Al Quran. Dengan menggunakan bahasa Jawa, Ust. Zainal banyak menjelaskan tentang makna syahadat dan aqidah yang menjadi persoalan penting kepada mereka. Beberapa di antara kelihatan manggut-manggut, saya sulit menerka, mereka paham atau tidak terhadap penjelasan Ust. Zainul. Akhir ceramah beliau, warga dusun ini kemudian dituntun oleh beliau untuk mengulang syahadat tiga kali.

Bingkisan yang dibagikan kepada 101 kepala keluarga diterima dengan gembira oleh mereka. Ust. Zainal membisiki beberapa warga agar tidak menggunakan bantuan yang terdiri atas sirup, sarden, gula pasir, beras, susu kaleng, minyak goreng, mi instan, dan tepung terigu ini untuk membuat tumpengan. Saya perhatikan, mereka hanya tersenyum.

Ketika kami pamitan untuk kembali ke Lumajang, kepala desa Argosari mengundang kami untuk hadir pada hari Raya Andang, yang menurut beliau salah satu hari raya yang dirayakan dengan besar-besaran di desa Argosari. Saya hanya tersenyum menjawab tawaran beliau yang katanya dirayakan pada pertengahan Desember dan hanya ada setiap 5 tahun sekali. Saya teringat apa yang dijelaskan oleh Pak Karman tentang Hari Raya Karo. Apa yang dilakukan pada hari Raya Andang, tidak berbeda dengan aktifitas-aktifitas anismis di hari raya Karo. Kabut cukup tebal menyelumuti dusun Gedok, ketika kami meninggalkan dusun ini. Lereng Tengger menjadi saksi betapa masih banyak ummat ini yang membutukan sentuhan dakwah dari para penyeru dakwah. (smd/pkppujatim)

telah dibaca 2487 kali | kembali ke atas | versi cetak | kirim ke teman

 

:: RESUME
Ahad, (1/12) jam 08.00 pagi, saya mewakili PKPU Jawa Timur dan rombongan dari PKPU Korlak Lumajang, berangkat ke desa Argosari. Desa ini terletak di lereng Tengger Gunung Semeru - Kabupaten Lumajang.
:: BERITA
copyright (c) 2006 by PKPU