Menggugah Nurani Menebar Peduli lite version  english version  versi bahasa indonesia
SITUS RESMI LEMBAGA KEMANUSIAAN NASIONAL PKPU
    Gedung Graha Peduli PKPU Jl. Raya Condet No. 27-G Batu Ampar Jakarta Timur 13520
    Telp. (021) 87780015 Fax: (021) 87780013 email: customer_relation@pkpu.or.id
HOME PROFIL BERITA ARTIKEL KEUANGAN JEJARING PROGRAM ZAKAT GALERI BUKU TAMU
:: BERITA

Selasa, 12 Februari 2008
Gizi dan Kualitas Generasi Indonesia


PKPU Online JAKARTA − Masalah gizi kurang dan buruk hingga kini masih merundung Indonesia. Segenap upaya telah dilakukan pemerintah, namun belum menampakkan hasil yang signifikan. Bahkan, fenomena terakhir menunjukkan adanya peningkatan prevalensi masalah gizi yang lebih serius.

Data Susenas 2005 menunjukkan, terdapat 28% berstatus gizi kurang dan 8,8% berstatus gizi buruk dari 18 juta balita. Krisis ekonomi, merosotnya nilai rupiah dan bencana alam yang beruntun, menjadi pemicu meningkatnya masalah ini.

Berbagai penelitian menunjukkan adanya korelasi positif antara status gizi dengan kecerdasan anak. Otak dan jaringan syaraf berkembang sangat cepat sejak janin hingga bayi lahir. Sepuluh bulan setelah kelahiran, pertumbuhan otak dan jaringan syaraf tersebut berkembang dan akan maksimal (100%) setelah usia 2 tahun.

Kemudian dilanjutkan perkembangan sel otak dan jaringan syaraf hingga usia 60 bulan atau masa balita berakhir. Jika dalam masa bayi dan balita (critical periode) gizi anak tak tercukupi, akan berakibat terhambatnya proses tumbuh kembang anak.

Ini ditandai dengan sel otak yang tak tumbuh dengan sempurna dan kecerdasan anak menjadi rendah. Oleh karena itu, upaya perbaikan status gizi yang cepat dan tepat menjadi hal yang sangat mendesak dilakukan. Tabel di bawah ini menjelaskan pengaruh status gizi kurang dan buruk terhadap proses tumbuh kembang sel otak.

Berbagai Upaya
Penanganan masalah ini melalui Posyandu ternyata belum berjalan dengan baik. Pemberian Makanan Tambahan (PMT) di Posyandu, belum sampai meningkatkan kualitas makanan bergizi agar balita dapat bertumbuh−kembang dengan sehat.

Penanganan lain juga dilakukan pemerintah, seperti pemberian susu kepada balita memang sangat berarti, tetapi belum menyentuh akar permasalahan sebenarnya. Keluarga balita penerima susu itu akan menyetop pemberian susu seiring dengan berhentinya pemberian susu dari pemerintah.

Karena setiap program bantuan yang tidak mengedepankan pembinaan masyarakat dapat berdampak buruk bagi penerima program. Masyarakat akan terbiasa menunggu bantuan tanpa terlebih dahulu berusaha menangani masalahnya sendiri.

Sehingga muncul penyakit baru di masyarakat yaitu “kebudayaan menunggu bantuan tanpa berusaha” (cargo cult mentality). Munculnya masalah gizi bukan saja disebabkan masalah pangan dan kesehatan, melainkan beragam masalah, seperti kemiskinan, kondisi kesehatan anak dan lingkungan, perilaku konsumsi, perilaku pengasuhan, pendidikan, dan lain−lain.

Maka penanganan masalah gizi ini harus dilakukan secara multidimensi dan holistik dengan mengedepankan community development dalam pelaksanaan programnya. Dengan demikian secara bertahap dan kontinyu, penyelesaian masalah gizi dapat berangsur−angsur berkurang dan resiko masalah gizi berupa lost generation dapat diminimalisasi, kualitas SDM pun menjadi unggul.

Para dermawan ingin berkonsultasi masalah gizi atau hanya ingin mengetahui permasalahan gizi. Silahkan kontak Manajer Layanan Gizi PKPU, Ir. Alwan Bukhori di nomor 081321079239 atau kirim email: box_alwan[at]yahoo[dot]com. (Alwan/Lufti/PKPU)


 

:: RESUME
JAKARTA - Masalah gizi kurang dan buruk hingga kini masih merundung Indonesia. Segenap upaya telah dilakukan pemerintah, namun belum menampakkan hasil yang signifikan. Bahkan, fenomena terakhir menunjukkan adanya peningkatan prevalensi masalah gizi yang lebih serius.
:: BERITA
copyright (c) 2006 by PKPU