Menjadi Imam Bagi Sang Imam
18 Agustus 2012 11:02
KOREA SELATAN - Hari Rabu, 15 Agustus 2012 atau 26 Ramadhan 1433H, bertepatan dengan hari kemerdekaan bagi rakyat Korea Selatan, sebagian besar perusahaan meliburkan atau mengurangi jam kerja para karyawan mereka. Dan hari itu merupakan hari yang tepat menurut para pengurus KMC (Kyeongnam Muslim Community) sebuah organisasi Komunitas Muslim di Changwon yang mengelola sebuah masjid Sayyidina Bilal, untuk membalas kunjungan pengurus PUMITA, sebuah organisasi komunitas muslim di Busan bersama KH Saeroji ke Changwon beberapa hari lalu.
Busan adalah salah satu kota besar di wilayah bagian selatan Republik Korea Selatan. Disana terdapat sebuah masjid bernama Masjid Al Fatah, dan saat ini menjadi pusat penyebaran Islam untuk kawasan tersebut. Masjid ini dikelola oleh muslim Korea Selatan yang tergabung dalam KMF (Korea Muslim Federation). Di Masjid Al Fatah saat itu mengundang seorang Imam shalat tarawih dari Al Azhar Kairo, Syekh Said namanya.
Beliau juga pernah menjadi Imam di Masjid Husein di Kairo Mesir, salah satu masjid terbesar dan memiliki situs sejarah sampai saat ini. Karena disamping tempatnya bersebelahan dengan Masjid Al Azhar, konon di dalam masjid tersebut terdapat peninggalan Rasulullah SAW dan makam imam Husein, cucu Rasulullah SAW. Sehingga banyak orang berziarah ke sana.
Komunitas muslim Indonesia di Busan membentuk sebuah organisasi bernama PUMITA (Persaudaraan Umat Islam Indonesia Al Fatah). PUMITA juga meminta kepada KMI sebagai organisasi induk kaum muslim di Korea Selatan untuk menghadirkan seorang dai dari Indonesia, dan Alhamdulillah KH Saeroji Hasan berkenan hadir bersama mereka. Bagi KMC (Kyeongnam Muslim Community) ini bukan sekedar kunjungan antar organisasi dalam menjalin silaturahim tapi juga kunjungan antar dai PKPU.
Saya, Mohammad Suharsono, beserta rombongan pengurus KMC tiba di Masjid Al Fatah tepat waktu adzan maghrib. Kami langsung disambut oleh masyarakat muslim yang juga sedang berbuka puasa disana tak terkecuali Imam Yaseer Lee yang juga turut menyambut kami. Suguhan air putih menjadi pembatal puasa bagi kami hari itu.
Setelah menyelesaikan shalat maghrib yang diimami oleh Syekh Said, dilanjutkan dengan makan besar satu nampan untuk enam orang, dengan menu makanan khas Korea Selatan mirip ayam pop namun berkuah dan luar biasanya kokinya langsung imam Yaseer Lee. Dalam grup makan tersebut, saya berkenalan dengan seorang jamaah yag berasal dari Maroko namanya Muhammad.
Kami pun asyik mengobrol ringan sambil menyantap makanan. Sampai akhirnya dia bertanya dari mana bisa belajar bahasa arab. Saya jawab, “Saya belajar sejak masih di madrasah di Indonesia dan saya alumni Universitas Al Azhar Kairo Mesir”. Mendengar hal itu, ia senang sekali dan memberitahukan kepada saya bahwa imam (Syekh Said) juga dari Al Azhar.
Sambil menyantap hidangan pencuci mulut bersama rekan-rekang dari PUMITA dan KMC, saya melihat dan memperhatikan sang Imam yang juga sedang menikmati hidangannya di ruang berbeda. Setelah dirasa tepat waktunya, saya minta izin untuk berkenalan dengan sang Imam Syekh Said.
Saya segera mendatangi sang Imam dan memperkenalkan diri dari Indonesia dan alumni Al Azhar, serta saat ini menjadi imam di Masjid Sayyidina Bilal Changwon. Beliau sangat senang berjumpa dengan alumni Al Azhar. Di Universitas Al Azhar ternyata kami satu fakusltas, yaitu di fakultas Ushuludin hanya beda jurusan. Syekh Said jurusan Dakwah Islamiyah sementara saya jurusan Hadits wa ‘Ulumuh. Kami juga akhirnya larut dalam obrolan santai dan ringan ditemani oleh Muhammad dari Maroko dan tidak lama kemudian KH Saeroji pun ikut bergabung dalam obrolan tersebut.
Saya menyampaikan kepada Syekh Said bahwa saya dan KH Saaeroji adalah para dai yang diutus oleh salah satu lembaga kemanusiaan nasional di Indonesia, yaitu PKPU. Lalu saya pun bercerita sedikti tentang PKPU dan kiprahnya yang sudah mendunia. Tak terasa waktu isya pun tiba, silaturahim singkat ini harus selesai karena kami mesti menuju masjid untuk melaksanakan shalat Isya dan shalat sunah tarawih.
Shalat isya dan tarawih diimami langsung oleh Syekh Said dengan suaranya yang sangat indah, menambah kekhusyuan dalam shalat, rindu sekali dengan lantunan ayat-ayat Al Quran dari suara para hafidz Al Quran sebagaimana biasa dilakukan setiap bulan Ramadhan, shalat di masjid yg diimami oleh seorang hafidz.
Menjadi imam di Changwon membuat hati semakin haus untuk mendengarkan taujihat dari para masyaikh, para guru, para asatidz. Khawatir jangan-jangan selalu memberi tidak pernah diisi membuat hati menjadi keras bahkan merasa paling tahu diantara yang lainnya apalagi ancaman dari Allah SWT bagi siapa saja yang paling banyak berbicara dan sedikit dalam amalnya. Dan alhamdulillah malam ini menjadi malam istimewa buat saya. Saya dapat mendengar lantunan ayat-ayat Al Quran dalam shalat dan taujih dari seorang Syekh Said, Imam Masjid Husein.
Syekh Said menyampaikan taujihnya tentang “Iman dan Pengaruhnya dalam Kehidupan Seorang Muslim”. Syekh Said mengutip firman Allah SWT yang terdapat dalam surat Al Hadid, bahwa seorang muslim memiliki cahaya karena keimanannya kepada Allah SWT, sementara orang-orang kafir dan orang-orang munafiq mereka meminta sedikit saja cahaya dari kaum mukmin namun mereka tidak mendapatkannya.
Seorang muslim akan medapatkan lezatnya iman jika, pertama menjadikan Allah dan RasulNya lebih ia prioritaskan dibandingkan yang lainnya, bahkan lebih dari cintanya kepada dirinya sendiri. Kedua, jika mencintai seseorang hendaknya ia mencintainya karena Allah dan ketiga, ia benci jika kembali kekafiran sebagaiman ia benci dilemparkan ke dalam api neraka.
Yang luar biasanya lagi adalah acara taujih ini menggunakan 3 bahasa, Syekh Said dengan menggunakan bahasa Arab, kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang jamaah dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh KH Saeroji. 15 menit berlalu tanpa terasa, shalat tarawih pun dilanjutkan dengan empat rakaat berikutnya.
Disinilah kejadian yang tak disangka-sangka dan tidak pernah diduga sebelumnya. Setelah menyelesaikan empat rakaat, dan ketika akan melanjutkan dengan shalat witir tiga rakaat, sang imam (Syekh Said) berdiri kemudian dia memanggil saya dan meminta saya agar mengimaminya dalam shalat witir. Saya terkejut, hal yang tidak disangka sama sekali. Apa dasar beliau meminta saya menjadi imam shalat witir, padahal dari sisi bacaaan beliau lebih bagus bacaannya dari pada saya, bahkan dari sisi hapalan Alquran apalagi sangat jauh sekali. Dan hal yang luar biasa buat saya adalah saya harus menjadi Imam bagi Imam Masjid Husein. Subhanallah…..
Menjadi imam dalam shalat, mungkin biasa saja bagi saya. Tetapi saat ini, menjadi Imam bagi seorang ulama besar, salah seorang syekh Al Azhar merupakan sesuatu yang luar biasa buat saya. Bergetar tubuh saya memikul beban menjadi imam shalat pada saat itu. Dengan bismillah saya beranikan diri untuk memenuhi permintaannya. Tidak heran setelah selesai shalat beberapa orang bertanya, “Gimana ustadz rasanya menjadi Imam tadi”, karena merekapun juga tidak menyangka kejadiannya.
Malam itu tepat malam ke-27 Ramadhan, malam yang dalam beberapa riwayat cukup kuat, menyatakan kemungkinan besar sebagai malam lailatul qadr, malam yang ibadah pada malam itu lebih baik dari pada seribu bulan. Malam yang ibadah pada malam itu sama dengan ibadah depalan puluh tiga tahun, malam pada Ramadhan tahun ini “Menjadi Imam bagi sang Imam”, Allahu Akbar, Walillahilhamdu….
Selesai shalat panitia meminta saya untuk memberikan taujih kepada para jamaah dan dilanjutkan dengan sambutan ketua KMI Nursito Aji yang pada hari itu bersama kami sejak dari Changwon dalam kegiatan kunjungan silaturahim ke masjid-masjid yang dibawahinya. Setelah selesai kami berpamitan, karena saya dan rombongan harus kembali ke Changwon untuk melanjutkan tugas sebagai imam di Masjid Sayyidina Bilal. Saya juga berpamitan kepada Syekh Said sekaligus dan mohon maaf tidak dapat bersama dalam I’tikaf di masjid tersebut. Saya juga menyampaikan rasa bangga dan senang karena dapat berkenalan dengannya.
Syekh Said juga menyampaikan salam dan terima kasih kepada PKPU yang memiliki perhatian besar terhadap masyarakat muslim di seluruh dunia khususnya di Korea Selatan. Pengiriman para dai (duta dakwah) ke Korea Selatan ini memiliki peran penting dalam menyampaikan risalah dakwah Islam. Disamping itu kehadiran para dai PKPU juga memudahkan beliau dalam menyampaikan kajian-kajian Islam.
Karena dari segi bahasa, tidak banyak masyakat Indonesia yang memiliki kemampuan bahasa Arab dan Inggris sehingga dengan adanya dai PKPU maka taujih-taujih yang beliau sampaikan dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga mudah dipahami oleh masyarakat muslim Indonesia.
Semoga amal jariyah PKPU dengan pengiriman para dainya dapat menjadi pemberat timbangan kebaikan di hari kiamat nanti dan semoga Allah memberikan anugerah kepada kita semua malam lailatul qadr. Wallahua’lam bishawab
Diceritakan oleh: H. Mohamad Suharsono, Lc, MESy | Biro Syariah PKPU
Follow twitter: @PKPU
Fb Fanpage PKPU: PKPU Lembaga Kemanusiaan Nasional
