PKPU

Berita Korporasi

Tim Indonesia Aid Sukses Antar Bantuan ke Rohingya

Friday, September 7th, 2012

JAKARTA – Tim Indonesia Aid berhasil masuk ke Sittwe, ibu kota Rakhine, salah satu negara bagian di Myanmar untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan dari masyarakat Indonesia bagi pengungsi Rohingya.
 
Upaya ini berhasil setelah melakukan assessment selama empat hari agar bantuan benar-benar sampai langsung di tangan para pengungsi. “Alhamdulillah akhirnya tugas mulia ini terwujud,” ungkap Ketua Tim Indonesia Aid M. Sabeth Abilawa melalui pesan elektronik dari Sittwe, Jumat (7/9/2012).
 
Indonesia Aid adalah forum bersama lembaga kemanusiaan di Indonesia seperti Dompet Dhuafa, PKPU, dan Rumah Zakat untuk membantu pengungsi Rohingya dan bencana kemanusiaan lainnya.
 
Corporate Secretary Dompet Dhuafa ini menceritakan bagaimana sulitnya menembus Kota Sittwe yang sempat dilanda kerusuhan etnik Juni lalu. Sebagaimana diketahui, hingga saat ini Pemerintah Myanmar masih menutup diri bagi lembaga-lembaga asing. “Hanya PBB dan komite ICRC (Palang Merah) yang diperbolehkan masuk,” tuturnya.
 
Selain itu, suasana Kota Sittwe hingga kini masih belum kondusif sepenuhnya. Pemerintah masih menerapkan jam malam dan menyeleksi secara ketat warga asing yang akan masuk ke kota ini. “Masih banyak tentara dan polisi yang berjaga-jaga di sudut-sudut kota,” ceritanya.
 
Selain itu, masjid masih tidak diperbolehkan untuk ibadah bagi umat muslim dan dijaga oleh tentara. Demikian juga dengan Pagoda dan Vihara yang dijaga ketat oleh militer Myanmar yang didatangkan dari Ibukota Yangoon.
 
“Duka akibat konflik ini masih sangat jelas terlihat di masyarakat, aroma ketakutan muncul dari kedua belah pihak baik etnik Rakhine maupun Rohingya. Rasa curiga dan was-was sewaktu waktu bisa tersulut kembali apabila tak ada penanganan yang baik dari otoritas setempat,” jelasnya.
 
Lebih lanjut Sabeth mengatakan, saat ini kondisi pengungsi Rohingya cukup memprihatinkan mengingat hujan lebat terus turun di wilayah ini. “Kondisi ini memperburuk pengungsi, mereka sangat rentan penyakit karena makanan dan obat-obatan yang terbatas,” tukasnya.
 
Tim dari Dompet Dhuafa sendiri, selama dua hari ini telah menyalurkan bantuan di 4 titik, 2 di kamp pengungsi Bengali dan Mingan, dan 2 titik lainnya di desa Thay Shaung dan desa Thandole. Migan Kamp dihuni sekitar 307 pengungsi, sedangkan Bengali kamp yang berisi etnis Rohingya dihuni sekitar 2000 pengungsi.
 
Tak seperti lembaga lain yang mengirimkan bantuan dari Yangoon maupun dari Indonesia menggunakan kapal, Dompet Dhuafa memberikan bantuan berupa bahan makanan dan perlengkapan lainnya dengan membeli langsung di pasar tradisional di Sittwe.
 
Jumlah bantuan yang didistribusikan adalah 1.000 karung beras, 400 liter minyak goreng, 352 selimut, 200 karung kentang, 400 paket ikan kering, 1.000 kardus mie instan, bawang putih dan perlengkapan lainnya seperti sabun, perangkat mandi.
 
Dompet Dhuafa berharap pemerintah Myanmar memberikan kemudahan akses bagi bantuan-bantuan internasional, karena menurut Sabeth, kondisi sebagian desa seperti Thandole dan Thay Shaung sangat memprihatinkan. “Rumah rumah warga yang terbakar ludes belum bisa diperbaiki sama sekali,” pungkasnya. (ful)


Sumber: Okezone, Jumat, 07 September 2012

 

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather