PKPU

News Zakat Center

Orang-Orang Yang Berhak Menerima Zakat

Monday, January 21st, 2002

Yang berhak menerima zakat itu ada delapan golongan, sebagaimana disebutkan oleh Allah Subhanallahu Wa Ta’ala di dalam firman-Nya: “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para pengurus-pengurus (amil) zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak. Orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana“. (QS. At Taubah: 60)

Delapan Golongan Yang Berhak Menerima Zakat adalah:

  1. FAKIR
    Yaitu, orang yang tidak mempunyai harta dan tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri serta keluarganya seperti makan, minum, sandang dan perumahan. Dalam hadits disebutkan: “Harta yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka, diserahkan kepada orang-orang miskin di antara mereka” (HR. Bukhari)

  2. MISKIN
    Yaitu, sebagaimana disebutkan di dalam sebuah hadits yang memberikan pengertian, bahwa yang dimaksud dengan miskin adalah mereka yang tidak mengemis dan tidak pula mau meminta belas kasihan orang lain, meskipun mereka dalam kondisi kekurangan. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu, ia berkata; Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Miskin itu bukanlah orang yang dapat dicegah dengan satu atau dua buah kurma, sesuap atau dua suap makanan. Akan tetapi, miskin adalah orang yang tidak meminta-minta. Atau dengan kata lain: Mereka tidak meminta-minta kepada orang lain dengan cara-cara yang tidak dibenarkan”. Dalam lafazh yang lain disebutkan: “Bahwa yang disebut dengan miskin itu bukanlah orang yang meminta-minta sambil berjalan mengelilingi orang banyak, lalu diberikan kepadanya sesuap dua suap makanan atau satu butir kurma. Akan tetapi, yang disebut dengan miskin itu adalah orang yang tidak mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, sedang dirinya tidak mempunyai kemampuan untuk menutupi kurangnya kebutuhan tersebut, namun tidak mau meminta sedekah serta tidak berdiri untuk meminta-minta kepada orang lain” (muttafaqun ‘Alaih)

  3. AMILIN (Pengurus Zakat)
    Yaitu, seorang amil, yang mana ia diperbolehkan untuk menerima upah dari pengelolaan zakat yang dikumpulkan dan dibagikannya, meskipun ia termasuk golongan yang mampu (tidak kekurangan).

    Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah: “Tidak halal zakat itu bagi orang yang kaya, kecuali terhadap lima golongan, yaitu amil zakat, orang kaya yang membelanjakan seluruh dari hartanya di jalan Allah, orang kaya yang terlilit hutang, orang yang berperang di jalan Allah dan orang miskin yang diberi zakat lalu ia menghadiahkan kembali sebagian dari perolehan zakatnya itu kepada orang kaya” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah)

  4. MUALLAF
    Yaitu, orang Islam yang masih lemah Imannya, namun yang mempunyai pendirian kuat di tengah keluarganya (yang masih kafir), sehingga disunnahkan untuk diberikan zakat agar memperteguh hatinya supaya dapat menghilangkan keragu-raguan. Bahkan diperoleh mengambil bagian dari zakat untuk diberikan kepada orang kafir dan keluarganya yang sungguh-sungguh inigin masuk Islam. Yang demikian itu merupakan salah satu jalan dakwah kepada Islam.

  5. FIRRIQAAB (Memerdekakan Budak)
    Yaitu, membeli budak pria maupun wanita muslimah dengan harta zakat, untuk selanjutnya dimerdekakan di jalan Allah.

  6. GHARIMIN (Orang Yang Berhutang)
    Yaitu, seseorang yang berhutang untuk kepentingan yang baik dan bukan digunakan bermaksiat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Diberikan bagian zakat kepadanya untuk menutupi hutangnya. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah: “Meminta-minta itu tidak dibolehkan, kecuali bagi orang yang sangat fakir, orang yang dililit hutang atau orang yaang sakit parah” (HR. Tarmidzi)

  7. FII SABILILLAH
    Yaitu, amal perbuatan yang diridhoi oleh Allah SWT dan mencakup kepentingan orang banyak seperti pembangunan masjid, madrasah, rumah sakit, dakwah dan lain sebagainya. Sebagaimana zakat itu boleh dibayar untuk memperbaiki dan mengamankan perjalanan ibadah haji.

  8. IBNU SABIL
    Yaitu, musafir yang jauh meninggalkan negerinya dan kehabisan bekal. Boleh diberikan bagian dari zakat untuknya guna memenuhi kebutuhan selama diperjalanan meskipun ia termasuk orang kaya di negerinya. Para ulama telah sepakat dengan mensyaratkan bahwa perjalannya itu untuk suatu ketaatan dan bukan berbuat maksiat kepada Allah. Menurut Imam Syafi’i, Ibnu sabil itu boleh diberikan zakat, meskipun perjalannya itu untuk bersenang-senang atau refreshing. Menurutnya, Ibnu sabil itu ada dua macam, yaitu musafir yang pergi meninggalkan negerinya dan orang yang melakukan perjalanan ke suatu tempat yang jauh, meskipun masih di dalam negerinya sendiri. Keduanya mempunyai hak yang sama untuk mendapatkan bagian dari zakat, walaupun ada pihak yang telah mencukupi kebutuhannya selama berada di negerinya sendiri dan ia memiliki harta untuk melunasi hutang-hutangnya. Sedangkan menurut Imam Malik dan Imam Ahmad, Ibnu sabil yang berhak menerima zakat itu dikhususkan bagi orang yang membutuhkan saja, sehingga ibnu sabil yang sudah mendapatkan jaminan dari seseorang tidak perlu lagi diberikan zakat.

(cyp/pkpu)

Sumber:

  1. Fiqih Zakat, Yusuf Qardhawi
  2. Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq
  3. Fiqih Wanita, Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather