Saat Tim Charlie Tidur di Kantong Mayat

15 Mei 2012 10:28

BOGOR - Meniti tali dari atas tebing hingga kedalaman sekitar 200 meter, tim SAR yang berjuluk Tim Charlie akhirnya membangun camp darurat di bibir tebing. Di sinilah lokasi pesawat Sukhoi Superjet 100 berpenumpang 45 orang termasuk 8 awak warga Rusia menghantam tebing Puncak Manik di Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat, pada Rabu 9 Mei 2012 sekitar pukul 14.33 WIB.

Tim Charlie yang total beranggotakan 7 orang ini masuk jalur darat lewat Posko Embrio Kandang Sapi. Posko ini berjarak sekitar 5 kilometer dari landasan helikopter utama di Pasir Pogor, Cijeruk. Posko Embrio ini merupakan posko teratas yang bisa diakses kendaraan roda empat.

Di atas tebing Puncak Manik, Tim Charlie membangun drop zone untuk helikopter. Drop zone ini yang sampai sekarang digunakan untuk mengirim jasad-jasad korban Sukhoi menggunakan tali dan jaring. Helikopter Superpuma yang biasa hilir-mudik tidak bisa mendarat. Heli hanya menjulurkan tali dan jaring untuk mengambil korban.

Kamis petang, 10 Mei 2012, tim Charlie yang terdiri dari Kopassus, Palang Merah Indonesia (PMI), dan Lembaga Kemanusiaan Pos Keadilan Peduli Ummat (PKPU), tiba di lokasi pesawat jatuh.

Dari 7 orang anggota, tiga di antaranya merupakan ahli forensik, termasuk Surya Wijaya, ahli forensik dari PMI Bogor. Petang itu mata mereka terbelalak melihat kondisi Sukhoi jatuh. Mereka menemukan puing-puing pesawat berserakan. Kondisi jenazah sangat mengenaskan. "Kalau mau cium bau mayat, cium saja seluruh badan saya," kata Surya Wijaya saat ditemui di Posko Cimelati, yang baru saja turun setelah empat hari berada di antara puing dan jenazah korban Sukhoi itu.

Empat hari tidur bersama jasad-jasad yang bergelimpangan dan reruntuhan Sukhoi. Surya dan 6 orang lainnya tidur dengan kondisi seadanya. Untuk tidur, mereka menggunakan kantong mayat yang dibawa. Itupun jumlahnya hanya 5 kantong mayat. Mereka bergelantungan di pohon. Kantong jenazah diikat di pohon. Bahkan sampai bagian tubuh diikat di pohon agar saat tidur tidak berguling dan jatuh ke dalam jurang sedalam 600 meter di bawah mereka.

Selama empat hari tinggal bersama jenazah korban Sukhoi dan puing pesawat, kondisi Tim Charlie sangat memprihatinkan. Mereka kesulitan air. Belum lagi cuaca yang tidak menentu. Kabut datang setiap saat, bahan makanan atau logistik sangat terbatas. "Maka itu banyak tim yang drop. Banyak yang sakit, luka-luka karena gores. Belum lagi dengan kondisi jenazah yang sudah mulai membusuk dan berair," kata Surya.

Saat pertama kali melihat kondisi jenazah, mereka kekurangn kantong mayat. Salah satu anggota Tim SAR berteriak di tebing kepada Tim SAR terdekat. Sahut-menyahut. Akhirnya, tim kedua datang. Tim Marinir masuk membawa kantong jenazah tambahan.

Tapi sayang, kantong-kantong jenazah yang dibawa kondisinya banyak yang rusak. Sobek karena tersangkut pohon dan terseret-seret. Jadi, setiap kali tim evakuasi memasukkan bagian-bagian jenazah, banyak yang tercecer. Alhasil, untuk mengumpulkan jenazah membutuhkan sedikitnya tiga lapis kantong mayat. "Melihat kondisi jenazah juga membuat mental kami drop," kata Surya yang mengenakan kaos PMI, celana jins, dan sepatu boot ini.

Surya kini sudah turun dari lokasi utama pesawat jatuh. Bagi Surya, banyak suka dan duka bersama Tim Charlie. "Yah, makan susah, tidur susah," kata Surya yang langsung meninggalkan Posko Cimelati. (umi)

Sumber: VIVAnews, Senin, 14 Mei 2012

 

telah dibaca 595 kali
Bookmark and Share
Tag: pkpu tim rescue pkpu evakuasi korban sukhoi tim charlie

Lihat arsip berita »

Copyright © 2001-2013 - PKPU (Lembaga Kemanusiaan Nasional). Semua hak dilindungi.

Grha Peduli PKPU Jl. Raya Condet No. 27-G Batu Ampar Jakarta Timur 13520

Telp. 0804 100 2000 Fax: (021) 87780013 email: welcome@pkpu.or.id "25/05/13 : 05:29:24